How to be a Member of the Representative Council?

A friend came to me two days ago asking me of how to be a member of the representative council (read: anggota dewan). Me, despite having neither experience nor idea, tried to explain in my own stupid version. Fortunately, or unfortunately, so to speak, he agreed on couple of my answers, thus asking me further with some what-if questions. I, being lazy to explore further for I really don’t care, were diligent enough to draw a flowchart (hope it represents a correct flowchart) of how to be a member of the representative council. The intention is nothing more than for him to kindly stop such discussion. Being blessed in a certain way, I were able to fulfill his eagerness to know and stop the discussion at the same time. Sigh… what a day…

I posted the flowchart (just click on the picture for a larger version) for us to reconsider the decision of being a member of the representative council, not to discourage you nor discrediting any party, but really, it comes in a long procedure…

Have a good day!



Comments (1) »

Small Business (4): Kejutan! Anda Telah Diupgrade!

upgrade(judul asli: Surprise! You’ve Been Upgraded!)

Katakanlah anda telah bekerja mati-matian untuk memperbaharui produk atau jasa anda. Karena anda tahu segalanya tentang pembaharuan ini, kenapa diperlukan dan seberapa besar nilai yang ditawarkan, tetapi anda lupa bahwa mungkin konsep anda asing bagi pelanggan anda. Artikel dari Sevice Untitled memberikan petunjuk bagaimana membuat pelanggan anda mengerti tentang pembaharuan yang anda tawarkan:

  • Gunakan berbagai macam saluran komunikasi yang ada untuk melakukan pemberitahuan. Kebanyakan pelanggan anda tidak secara aktif mengecek berita terbaru di situs web anda, tetapi secara rutin mengecek email dan SMS mereka. “Kuncinya adalah menjadi kreatif dan mengerti bagaimana sebaiknya pelanggan anda dihubungi,” kata Service Untitled.
  • Garisbawahi perubahan yang akan terjadi-dan kenapa itu bisa terjadi. Jangan mengharapkan pembelian akan meningkat apabila anda tidak menjelaskan bagaimana sebuah pembaharuan dapat membantu pelanggan. Ungkapkan secara eskplisit tentang apa yang akan mereka peroleh dari pembaharuan tersebut, niscaya anda akan mendapatkan respon yang lebih baik lagi.
  • Realistis terhadap garis waktu. Beritahu pelanggan dengan jujur kapan produk atau jasa lama anda ditarik dari peredaran atau tidak tersedia untuk beberapa saat-misalnya saat implementasi konsep baru-dan seberapa sering kejadian seperti ini akan terulang kembali.
  • Antisipasi pertanyaan. “Komunikasi biasanya selalu berujung pada pertanyaan,” kata Service Untitled. Siapkan jawaban-jawaban yang tepat, jelas, dan dengan sikap yang ramah serta membantu.

The Po!nt: Menuntun pelanggan anda terhadap sebuah proses pembaharuan membutuhkan usaha, akan tetapi usaha di depan lebih baik daripada harus menghadapi kebingungan dan kebuntuan di kemudian hari.

Leave a comment »

Small Business (3): Waktu Untuk Mengaudit Ambisi Anda

audit(judul asli: Time to Audit Your Ambition)

“Ketika melakukan ritual perencanaan tahunan anda, apakah anda mempelajari dan menganalisis situasi anda di pasar kemudian langsung menetapkan tujuan anda?” tanya Dan Herman di dalam artikelnya di MarketingProfs. “Praktek yang umum-tetapi sebuah kesalahan besar!” Menurut Herman, praktek yang sebenarnya tidak optimal ini menempatkan batasan buatan pada ambisi anda. “Sekarang ini” katanya, “kesuksesan dari kebanyakan bisnis merupakan hasil identifikasi awal dari peluang pasar dan mengambil langkah kreatif dan cepat dalam mengambil peluang itu, kemudian memaksimalkan keuntungan.” Metodologi Herman, yang disebut  dengan Opportunity Scan (atau O-Scan) menyebutkan dua tahap:

  • Sekarang apa? Tahap pertama mencakup riset dan analisis situasi pasar saat ini.
  • Apa yang mungkin? Eksplorasi secara sistematis terhadap peluang.

Menjawab ketiga pertanyaan di bawah ini akan memimpin anda keluar dari realitas anda sekarang menuju apa yang bisa anda capai di kemudian hari:

  • Apa yang seharusnya tidak terjadi? Tempatkan apa saja di kategori ini mulai dari sumber daya yang tidak terpakai sampai  frustasi pelanggan.
  • Apa yang dapat dan seharusnya dirubah? Dengan kata lain, tanya Herman, “Apa saja peraturan-peraturan tidak tertulis yang sudah ketinggalan jaman dan  tidak masuk akal lagi tetapi masih digunakan oleh pemain-pemain pasar?
  • Apa yang bisa terjadi? Tentukan bagaimana perusahaan anda bisa maju dengan mengandalkan barang atau jasa yang sulit dikembangkan oleh pesaing.

The Po!nt: “Dengan perkembangan pasar yang tidak stabil dan kompetitif seperti sekarang ini,” kata Herman, “perusahaan harus mengembangkan kemampuan untuk mengidentifikasi, menciptakan, dan berekasi cepat terhadap peluang pasar.”

Leave a comment »

Lessons Learned From the US Financial Crisis

wall streetJust last week, Microsoft announced its first significant job cuts ever following the disappearing jobs in home building and mortgage operations early in the recession, then across finance, banking, manufacturing, and retailing. Layoff announcements urges everybody to realize that they are in a ‘great depression’ literally and figuratively, no more guaranteed retirement, and seeing the unexpected truth that there is no such thing as a ‘safe secure job’, at least no more…

We know that this ongoing major recession finds it roots in the subprime mortgage which was triggered by a rise in mortgage delinquency and foreclosures in the US, that home property ownership once considered as a promising investment vanished and burst in value before our very eyes.

Capitalism does carry the seeds of its own destruction. Causes and effects of the recession have been recorded and updated in various medias around the globe and it is not within my capacity to explain one by one, nor can I give you my thoughts on its solution, whether on bailing out financial institutions, increase the money supply, refundable tax credits, oh stop it, let Obama and his team do their work. I just want to share simple things about lessons that I learned from the crisis.

Well, I have to say thanks God that most Indonesians are fortunately and unfortunately ‘subprime’ by nature (zero FICO score, ha-ha), let alone knowing the term mortgage, securities, derivatives; most Indonesians don’t really know what a credit card is, it’s true. So where do they get their loan from? Well, other than no loan at all, Indonesians prefer to get the loan from their surrounding environment, family, relatives, friends, acquaintances, etc., or the best practice, pawn shop, yes, pawn shop is one of the last resort if they have collateral. Recalling a story of a friend who worked for a bank and was assigned in a rural area, first timer customers knock the door and take of their shoes before entering the bank, it shows how polite yet how uneducated the people are. Well, seeing this phenomena, I know by heart that Indonesia won’t get into any subprime mortgage crisis, more likely into subprime mental crisis, ha-ha. Seriously, being uneducated or having information barriers sometimes could bring its own positive outcomes.

Some might see Indonesians are consumptive, indeed, but to a certain extend. Personally, I prefer to use cash rather than credit, I use credit just in order to smoothing my cash flow, especially in business. The message is simple, to live beneath my mean, I spend on what I can afford now, not in the past nor tomorrow. And I see myself living in the same style as most Indonesians who prefer to use cash rather than credit.

Secondly, having been raised in a traditional Chinese environment has helped me to learn the importance of having a personal savings, that money is virtually second to God, so to speak, that we’re not merely living for today, we’re living to see the future of our children, and so on. That is why, the opinion that the rich get richer and the poor get poorer, that ‘Chinese artists carefully craft their empire statues’, do count, inheritance does play major role here. Personal savings come in various types,  investments, etc. Like many others, I used to believe by heart that house and lot are always be considered as assets, that there is a guarantee they will always appreciate overtime in value, then learning the hard way from the crisis, soon I realized that it is not always the case,  it could result to the unexpected negative equity. Although home ownership in Indonesia is strictly regulated, both from the government and financial institutions, at least higher interest rate is imposed, and mortgage is not a common practice in Indonesia, I start to believe Robert Kiyosaki who stressed that a house is not an asset unless it is making money, otherwise, our house is our liability, sad to say.

The crisis also taught me to be cautiously patient, that investment in form of stocks are for us with a long-term horizon, 10 years or more, to be exact. That I once saw and enjoyed the increasing value of my stocks portfolio,  but now have to ‘bite my finger nail’ (read: gigit jari) seeing  the prices plummeting in a consistent basis, is another lesson not to put all my eggs in one basket. So to where else I should put my eggs if I stuck with declining investments and the volatility of property values. I forgot that I live in Indonesia, where stick and rock become plants, that all you need is a hook and a net (lyric from the song of Koes Plus ‘Kolam Susu’), yes, now it’s the time to get real, nothing’s as real as the real business itself, the relatively fixed investment. All I need to do is to roll my sleeves up, sweat a bit, put a bait on the hook, spread the net, and ‘go fishing’.  It’s a wake up call, really, to pick cash over bonds, stocks, house and lot, etc.  But the question is where to get the hook and the net, well what really matters is that financial institutions are and will always be my last resort.

Last but not least, always have an escape plan, your personal exit strategy. I didn’t mention anything about escaping from our current quagmire by committing suicide, although that is one of the most effective and efficient attempt. Come on, get real, some might say “don’t take life too seriously, you’ll never get out of it alive anyway”, it’s damn true, but sorry, I prefer to “go confidently in the direction of my dreams, live the life I have imagined!” What about you? Mau? He-he…

Comments (2) »

Happy Chinese New Year!

happychinesenewyear大家好! 位典祝你們一家人
紅包拏來… hehe…

Comments (1) »

Small Business (2): Diskon Dapat Menjadi Bumerang

sale(judul asli: Price Reductions Can Backfire)

Kebanyakan promosi pemasaran bertujuan untuk meningkatkan angka penjualan jangka pendek. Ini mengakibatkan banyak sekali pemasar dan pemilik usaha menurunkan harga jual (biasanya dengan cara memberikan diskon). Akan tetapi, seperti apa yang dijelaskan oleh Michael Goodman, seorang pakar pemasaran, menurunkan harga jual tidak selalu menjadi alternatif terbaik atau paling efektif dalam mencapai tujuan tersebut. Kedengarannya seperti tidak masuk akal, apakah dengan menurunkan harga tidak bisa meningkatkan angka penjualan? Jawabannya, belum tentu. Menurut Goodman, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan untuk menurunkan harga jual:

  • Marjin. Jumlah keuntungan yang anda dapatkan dari produk atau jasa berpengaruh besar terhadap jumlah diskon yang dapat anda tawarkan. “Anda harus menyadari apa yang menjadi konsekuensi dari diskon tersebut,” jelas Goodman.
  • Jumlah penjualan di masa mendatang. Apakah promosi yang anda lakukan akan menjamin penjualan di masa mendatang? Apabila pelanggan anda menimbun produk anda selama masa promosi, mungkin bulan berikutnya mereka tidak lagi membeli produk anda. Hal ini secara negatif akan mempengaruhi penjualan anda di masa mendatang.
  • Imej kemahalan. Diskon yang berlebihan dan terlalu sering diluncurkan membuat pelanggan berkeyakinan bahwa harga jual anda selama ini terlalu tinggi.
  • Efek jangka panjang. Harga yang terlalu sering diturunkan juga mempengaruhi ekspektasi pembeli. Apabila pelanggan tahu bahwa toh produk-produk anda akan didiskon di kemudian hari, mengapa mereka harus membelinya saat ini?

The Po!nt: Sebelum memutuskan untuk meningkatkan penjualan jangka pendek dengan cara menawarkan diskon, pikirkan efek jangka panjangnya. Pikirkan potensi penjualan jangka panjang dan imej dari produk anda.

Leave a comment »

Small Business (1): Permainan Nama

success(judul asli: The Name Game)

Seringkali di dalam forum tanya jawab, para pemilik usaha mempertanyakan sebuah pertanyaan yang sebenarnya cukup sepele: Bagaimana sebaiknya saya menamai perusahaan atau produk saya? Sebenarnya, kebanyakan sudah punya ide di dalam benak mereka, hanya saja mereka butuh umpan balik. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang sama sekali tidak tahu nama apa yang sebaiknya digunakan. Apapun situasi anda, Scott Trimble memberikan beberapa poin yang mungkin dapat membantu:

  • Cari nama yang gampang diingat tetapi mudah untuk dieja dan diucapkan.
  • Hindari nama yang terlalu spesifik (mis. Warnet Edi 256KBps) yang membatasi kemampuan usaha anda di masa mendatang.
  • Pilih nama yang tidak mengandung konotasi negatif, baik dalam Bahasa Indonesia maupun dalam bahasa lain yang umum digunakan.
  • Periksa apakah nama yang akan anda gunakan tersebut sudah dipatenkan oleh orang lain.

Tanyakan pada diri anda beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa yang dilakukan oleh produk saya?
  • Bagaimana produk saya bermanfaat bagi konsumen?
  • Apa ‘resep’ yang terdapat pada produk atau jasa yang saya tawarkan?
  • Apa yang menyebabkan produk saya beda dari yang lain?

Ada beberapa jalan yang dapat membantu anda dalam masa ‘pencarian’ ini:

  • Gunakan sinonim-sinonim.
  • Gunakan permainan kata-kata.
  • Pinjam istilah yang sering digunakan di dalam industri tersebut.

The Po!nt: “Banyak sekali usaha dan produk yang sukses tetapi tidak menggunakan penamman yang baik,” ujar Trimble. “Jadi, carilah nama yang sesuai, misalnya dari pendapat teman anda, kemudian tambahkan bumbu. Dan, seperti halnya dengan yang lain, semakin anda pusing memikirkan sebuah kesempurnaan, semakin kecil kemungkinan anda mendapatkan nama yang sesusai dengan apa yang anda tawarkan.

Leave a comment »